Salam Kenal, Sakura

[Kata Kang Wildan (mentor menulis saya), cerpen ini ceritanya klise alias basi.

Hmm, jadi harus bisa lebih kreatif lagi. Semangaaaaat!]

1 April 2010.

Kring…kring….! Sinyal yang membawa 34 karakter huruf itu telah sukses menstimulasi sistem saraf sadar seorang gadis yang sejak sepuluh menit lalu tak bergeming. Dering handphone ternyata telah berhasil mengembalikan jiwanya ke dunia nyata setelah hampir setengah jam berjalan-jalan di alam khayal.

“Aku tunggu di taman kampus hr ni jam 4 sore.” Ini yang tidak disenangi Alsa, Alsa Diane lengkapnya. Semua kisahnya selalu berakhir membosankan. Termasuk kisah kali ini dengan seorang pria yang beberapa detik lalu mengiriminya sms yang sarat akan paksaan. Alsa menganggap sms ini sebagai ultimatum yang hanya memberikan dua pilihan, datang atau mati!

“Huft!” Dengan lemas Alsa mencoba merangkai kata menggunakan dua jempolnya, memberitahu si pengirim bahwa ia tidak akan datang. “Gak bisa!” sms balasan yang sama sekali tidak bersahabat itu dikirim setelah Alsa menghempaskan tubuhnya ke kasur. Beberapa detik berselang, ia menerima notifikasi bahwa smsnya sukses terkirim.

Kring… kring…! Sms balasan beberapa detik kemudian tampil di layar handphone bergaya touch-screen milik Alsa. Ia masih tak ingin melepas dirinya dari kasur. Bunyi gesekan tubuhnya dengan kasur sesekali terdengar saat ia memperbaiki posisi tidurnya yang menghadap langit-langit.  “KENAPA?” Kata yang ditulis kapital pada sms kali ini menguatkan kesan marah dari si pengirim. “Akhhhh, bodo amat deh,hati Alsa protes atas segala ketidakpentingan yang ditanyakan si pria. Ia pun menutupkan bantal tepat pada mukanya yang masih menghadap langit-langit.

***

1 April 2010.

BlackBerry warna hitam itu tak kunjung bergetar. Sudah hampir lima belas menit kedua tangan pria berparas Indo ini bersiaga di samping handphone yang tergeletak pasrah di meja perpustakaan, di kampusnya. Tangan kekarnya sudah siap menerkam kalau-kalau ada sinyal yang menggetarkan handphone-nya, dari Sakura.

“Sakura, gue udah terlalu menderita. Mau sampai kapan lu membuat gue menunggu begini?” Gozi, bule blasteran Spanyol-Indonesia sekelas Tom Cruise ini bergumam sambil mengetukkan telunjuknya ke meja perpustakaan. Ia sebenarnya tak tahu persis siapa Sakura, bahkan ia tak tahu apakah Sakura benar-benar bernama asli Sakura. Ia hanya telah teracuni oleh harum semerbak gadis ini, yang tiga bulan terakhir ia kenal lewat salah satu situs jejaring sosial, Facebook.

Sakura, gadis dunia maya yang seringkali muncul di layar laptop yang tersambung ke internet miliknya. Tak ada foto yang bisa dipelototi dari gadis ini kecuali seonggok cantik bunga Sakura di foto profilnya. Gadis ini unik. Seluruh komentar dan status di Facebooknya pun menarik. Tiap status ia tulis dalam gaya bahasa yang memukau. Rangkaian katanya tidak semena-mena dan sarat akan majas personifikasi dan metafora, seolah telah dipikirkan berjam-jam sebelumnya. Indah!

Hari Senin, tiga bulan yang lalu, tepat pada tanggal 1 Januari, Sakura mengajukan permintaan pertemanan melalui facebook pada Gozi. Ia pun mengirimkan sebuah pesan di Facebook Gozi. Sebenarnya Gozi bukan tipe yang senang berteman dengan orang asing baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Namun dengan segala keindahan dan keunikan Sakura dan bahasanya, hati pria bule ini leleh juga. Jantungnya berdegup kencang mendalami kata-kata indah yang ditulis Sakura dalam pesannya.

Engkau tak harus bertengkar dengan matahari, tentang siapa yang telah mencipta bayangmu

Engkau tak harus bertengkar dengan gravitasi, tentang siapa yang telah merekatkan kakimu di bumi

Engkau pun tak harus bertengkar dengan logika, tentang siapa yang seharusnya menjadi temanmu

Salam kenal

Urat refleks Gozi terstimulasi sangat cepat. Dalam hitungan detik saja telunjuknya sudah berhasil memijit mouse dan menyetujui ajakan pertemanan di layar laptopnya. Seperti terhipnotis oleh kalimat unik kiriman Sakura, Gozi mulai menjelajahi profil gadis bernama bunga khas Jepang itu. Tak ada informasi lain kecuali sebuah kalimat, “Aku Sakura, Sang Malam”

***

10 Januari 2010,

Blub!

Suara khas muncul bersamaan dengan munculnya kotak chatting bertuliskan nama Sakura di layar laptop yang sejak tiga puluh menit lalu dinyalakan Gozi.

Karna aku berbagi langit denganmu,” kalimat sarat makna itu mengalihkan fokus Gozi yang sebelumnya tengah asyik mempereteli isi buku Fisika Modern, buku kuliahnya. Gozi tak membalas. Ia lebih senang menikmati keindahan kalimat Sakura.

Maka saat kurinduimu, kusapa langit.” Semua terhenti di kalimat itu sementara detikan jam di kamar Gozi sudah mencapai satu putaran penuh. Ini berarti sudah satu menit kalimat indah Sakura terhenti. “Lanjutkan Sakura! Karena aku selalu menikmati keindahan bahasamu,” gumam Gozi dalam hati.

Detikan jam kali ini terdengar lebih kuat di daun telinga. Itu karena Gozi tertegun tanpa suara. Ia fokus menatap layar ukuran 12 inch tanpa berkedip. “Akhhh!” ia menggerutu. Sakura tak kunjung hadir menyelesaikan kalimatnya. “Ia pasti ketiduran, toh sekarang udah jam satu malam,” Gozi mencoba menutup keinginannya menikmati rangkaian kata Sakura.

“Selamat malam, Gozi,” beberapa detik berselang, Sakura telah menuliskan kalimat yang tak biasa. Jemari Gozi seolah lunglai. Pasokan darah ke jantungnya tiba-tiba saja berlebihan, menghasilkan degupan yang tak bisa dibilang pelan. “Malam, Sakura. Senang bisa ngobrol denganmu,” Gozi dengan ragu menuliskan pembicaraan pertamanya di dunia maya dengan Sakura. Keduanya pun terlibat pembicaraan hangat setelah hampir sepuluh hari ini hanya saling menyumbangkan ‘jempol’ di status facebook.

***

1 Februari 2010

“I don’t know the way she rolls her eyes. I don’t even know her. But my head keeps spinning, thinking about her! Oh, God, now I hate to say that I miss her so much, Mysterious Girl.” Air muka Gozi terkesan malu-malu. Warna merah tampak terkonsentrasi di kedua pipi bulenya. Baru saja ia mengetik perasaan rindunya di status Facebook, menjawab tulisan “what’s on your mind?” yang terpampang di halaman awal Facebooknya.

Sejatinya Gozi tidak terlalu senang mengumbar perasaannya di muka umum, apalagi di situs jejaring sosial seperti Facebook. Namun untuk kali ini ia kalah. Ada sesuatu dalam hatinya yang dengan kuat dan bertubi-tubi memaksa keluar dan menjelma menjadi sebait ungkapan rindu.

Beberapa menit berselang, sudah ada dua puluh tujuh komentar dari teman-teman dunia mayanya itu.

“Prikitiw!” Alexlah yang pertama kali mengomentari status fenomenal miliknya.

“Selamat ya, Bro! Akhirnya lu jatuh cinta juga.” Iwan turut bersuka cita.

“May I know who’s the lucky girl?” Louis, teman lamanya di Spanyol, turut berkomentar.

Gadis-gadis yang mengidolakannya pun berbondong-bondong mengomentari status bertema cinta itu dengan gaya bahasa genit berpadu cemburu. Mereka sibuk berdebat dan menimpali satu sama lain tentang siapa Mysterious Girl yang dimaksud oleh pangeran pujaannya itu.

“Tak usah menggumam kata,

tak perlu memadu mata,

karna cinta kadang tak berlogika…”

Mata Gozi tertahan di komentar kedua puluh. Pemilihan katanya begitu mantap, menorehkan kesan profesional penulisnya. “Sakura! Ya, itu dia Sakura!” Gozi menusukkan pandangan tajamnya ke layar laptop.

Gozi mulai menelanjangi kiasan-kiasan di balik komentar Sakura. “Yap! Gue ngerti maksud Sakura!” Tangannya dengan refleks menggebrak meja penopang laptopnya dengan bergelora. Sakura tengah menjawab rasa rindunya. Sakura merasa tak perlu ada percakapan ataupun pertemuan jika memang keduanya saling cinta. Karena cinta kadang tak mengenal logika!

***

1 Maret 2010

“Aku menenun asa, dari tali temali heningmu, dari ujung rajutan diammu yang tak bersimpul.

Aku menunggu kata, namun ikatan benang-benang celoteh tak kunjung kau cipta.

Ah, biarlah aku tetap menenun asa, tentangmu yang tak kunjung bercerita.”

Gozi tertegun. Jemarinya mengetuk meja laptop tanpa irama. Gigi seri atasnya kini menggigit lembut bibir bagian bawah. Alisnya mengkerut. Matanya fokus mendalami isi puisi yang terpampang di layar laptopnya. “Sakura menunggu ungkapan cinta dari gue,” Gozi meragu sekaligus mencoba yakin atas interpretasinya mengenai isi puisi dari Sakura.

Sudah dua bulan Gozi mengenal Sakura secara maya. Keduanya sering bertegur sapa walau hanya lewat dunia internet. Keakraban keduanya diperparah setelah Sakura mempersilakan Gozi memasuki ranah komunikasi yang lebih privasi, handphone. Tiap malam ia menelepon Sakura, dan tiap malam pula ia tak bisa tidur dibuatnya.

“Hai Sakura. I want you to know something about me. Yeah, I know it sounds funny or anything. But my heart keeps saying that… I LOVE YOU. Sorry for being real, Sakura

Gozi terbelalak menyadari dirinya telah mengirimkan sms cinta pada Sakura, wanita yang raut mukanya saja tak ia ketahui. Lagi-lagi ia terhipnotis oleh kemilau karisma yang dipancarkan Sakura. Puisi dari Sakura beberapa waktu lalu menambah kebulatan tekad Gozi untuk mengucap cinta. “Sakura ternyata sekampus sama gue. Gue yakin dia seorang gadis cantik dan cerdas, secantik dan secerdas bahasanya.” gumam Gozi beberapa menit sebelum ia melayangkan sms cinta untuk Sakura.

Dalam hitungan detik saja Gozi sudah mengantongi sms balasan dari Sakura. Seringkali ia dibuat gemetaran oleh tingkah Sakura. Dadanya hampir meloncat. Keringat dingin telah bersiap memperparah kondisi dirinya. Hidungnya kembang kempis dan tangannya yang tengah  menggenggam handphone kini gemetaran dengan hebat.

Terima kasih telah mencintaiku,” berulang kali Gozi membaca balasan singkat dari Sakura dan berulang kali pula Gozi merasa kecewa. Baginya, kalimat I LOVE YOU memang bukan kalimat tanya, namun tetap memerlukan jawaban.

***

1 April 2010

KENAPA?” dengan cepat Gozi melayangkan sms pada Sakura. Rangkaian huruf itu sengaja ditulis kapital agar Sakura mengerti bahwa dirinya benar-benar marah. Tangan Gozi kini mengetuk-ngetuk meja perpustakaan tanda resah. BlackBerry hitam yang digenggamnya digeletakkan begitu saja di atas meja. Ia duduk terkulai sembari memandang kosong handphone-nya.

“Sakura, gue sudah terlalu menderita…” Gozi bergumam dengan perasaan hati luluh lantak. 34 karakter huruf yang dikirimkan sebelumnya di balas dengan penolakan tanpa alasan. Sakura tak kunjung berniat menemuinya walau sedetik, padahal milyaran sel tubuh Gozi kini sangat merinduinya. “Kenapa gak mau nemuin gue di taman kampus sore ini, Sakura? Kenapa Sakura?!” Gozi menatap nanar kata “gak bisa!” yang dikirim Sakura beberapa menit lalu.

***

30 April 2010

“Dear Sakura, lagu ini adalah hatiku. Setiap kali daun telingaku menangkap dentingan piano di lagu ini maka setiap kali itu pula satu persatu sel tubuhku mati. Mati bersama gugurnya bungamu di hatiku”

Tombol enter tersentuh dengan ragu. Gozi mengirimkan sebuah lirik lagu lewat email. Tak terasa segerombolan air mata hampir saja menjebol kantung-kantung di matanya. Ia merasa sakit, sangat sakit. Puluhan email telah ia kirimkan dan tak pernah ada jawaban.

Tiba-tiba saja urat Gozi menegang. Sebuah email balasan dari Sakura kini terpampang bagai mimpi di layar laptopnya. Sekali dua kali Gozi menggosok matanya yang berair. Sulit untuk percaya bahwa gadis bernama bunga khas Jepang itu kini menyapanya lewat email.

“Gozi, tolong aku. Please!”

***

1 Mei 2010

Sekelompok jemari kini tengah menyisir rambut cokelat kehitaman. Tampak sekelompok bayangan jemari melakukan hal serupa di cermin. Gozi menatap lekat-lekat tiap detail lekukan di wajahnya sambil menggumam, “Ya Tuhan,” di sudut matanya tampak kristal-kristal air yang hampir mengalir. “Terima kasih, Engkau masih membolehkanku menemui Sakura, walau dalam kondisi seperti ini.” Ia memperbaiki kerah bajunya sambil sesekali menghadap samping untuk memastikan bagian belakang bajunya baik-baik saja.

“Whenever my phone vibrates, I always wish it’s a text from you, Sakura” Gozi membuka kembali sms dari Sakura yang dikirim selang beberapa detik setelah pengiriman email kemarin. “I will help you!” Ia memasukkan handphone ke dalam saku celana dan bergegas mengendarai mobilnya menuju rumah Sakura.

“Diakah Sakura?” Dari dalam mobil Gozi melihat seorang wanita tengah terduduk cemas di beranda rumah. Gozi mencocokkan alamat rumah di depannya dengan alamat yang dismskan Sakura. “Ya, dia Sakura!” Gozi mematikan mesin mobilnya. Perasaannya terpecah belah, berjatuhan seiring dengan ayunan langkah kakinya mendekati Sakura.

Wanita bertubuh gempal kira-kira berusia dua puluh tujuh tahun, jauh lebih tua dari Gozi yang berusia dua puluh dua tahun. Kulitnya hitam, rambutnya ikal, dan hidungnya besar. Tingginya tidak sampai seratus empat puluh. Kemejanya berwarna putih, sangat kontras dengan kulitnya yang legam. Tangannya yang gendut kini menenteng handphone, mungkin handphone ini yang selama ini menerima sms dari Gozi.

Gozi tidak merasa kecewa. Ia justru bersyukur karna secara raga Sakura baik-baik saja. Ia biarkan matanya menembus mata Sakura. Ia biarkan hatinya yang angkat bicara. Pelan-pelan kakinya terayun sampai jarak keduanya tinggal satu meter. Dengan ragu ia mengulurkan tangan dan Sakura menyambutnya.

“Ikut aku!” Sakura refleks menarik tangan Gozi dan masuk dengan tergesa-gesa ke dalam rumah, menuju sebuah kamar di lantai dua. Gozi mempereteli setiap sudut kamar yang ditunjukkan Sakura. Tiba-tiba bulu-bulu lehernya berdiri. Ia merasa ketakutan. Kamar ini seperti tak berpenghuni. Bau apek menebar di seantero kamar. Tak ada buku di meja. Tak ada pakaian dalam lemari. Dinding kamar itu penuh dengan tempelan kertas dan tulisan aneh. Gozi mencabut satu kertas dan terbelalak melihat isi tulisannya.

Degupan jantung Gozi semakin berat. Tangannya gemetar. Ia mendapati namanya terpampang di kertas tersebut bersama puluhan nama laki-laki lainnya. Dude, Gilang, Bondan, adalah nama-nama yang dituliskan sebelum namanya. Otak Gozi semakin dalam berpikir. “Ada apa ini, Ya Tuhan?” ia mendudukkan tubuhnya yang lemas di kursi kamar.

Gozi mengerutkan keningnya beberapa saat. “Ada apa, Sakura?” ia menatap lekat-lekat wanita yang sejak tadi diam seribu bahasa di sampingnya. Merasa Sakura takkan mau angkat bicara, Gozi kembali menatapi setiap detail tulisan di dinding kamar. Semua tulisan itu bertema keangkuhan dan kontan membuat jutaan sel pria bule ini menciut ketakutan. “Ada apa Sakura?” nada bicara Gozi sengaja dibuat lebih tinggi dari sebelumnya, berharap Sakura mau buka mulut. Sakura dengan cepat membalikkan badannya lantas berlari, sehingga hanya seonggok punggung yang terlihat semakin mengecil, meninggalkan kamar. Gozi pun mengikutinya.

Gozi tak bergeming. Ia kini berdiri di depan sebuah kamar yang lain. “Dia adalah Sakura,” lirih wanita yang sebelumnya Gozi anggap sebagai Sakura. Wanita itu menjuruskan telunjuknya pada seorang gadis di dalam kamar. “Namanya Alsa, Alsa Diane dan aku Riesa, kakaknya.” dia mengusap kedua matanya yang berair.

Gozi terkoyak lebih dalam lagi. Pasokan darah ke kakinya nyaris nol sehingga ia pun tersungkur tak berdaya. Ia dapati Sakura yang ternyata bernama Alsa kini tengah duduk dengan kedua tangan dan kaki terborgol. Pandangannya kosong. Tubuhnya hampir tak pernah bergerak walau satu milimeter. Gozi semakin tak mengerti, “Tolong jelaskan! Apa yang sebenarnya terjadi?” ia memaksa Riesa angkat bicara.

“Ia sakit, Gozi. Maaf kalau selama ini ia telah merepotkanmu,” suara wanita itu tertahan di kerongkongan. “Ia mengalami gangguan jiwa. Dokter menyebutnya Komplikasi Schizoprenia dan Afektif Disorder. Sudah hampir satu bulan ini ia sering mengamuk di rumah, makanya dokter menyarankan ia diikat.” Banyaknya air mata yang tertumpah di wajah Riesa menunjukkan betapa sedihnya ia.

Gozi membeku. Ia tak tahu banyak tentang penyakit ini. Ia hanya tahu bahwa pengidap penyakit ini tak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi. Mereka pun biasanya memiliki rasa percaya diri yang berlebihan (over confident).

“Alsa akan merayu banyak pria sampai pria itu mengungkapkan kata cinta. Setelah itu, ia akan meninggalkannya. Dengan begitu, ia akan merasa puas secara psikologis. Ya, seperti yang dia lakukan padamu,” Riesa menyesal sangat dalam. “Hampir setiap hari kamu mengiriminya sms atau email, atau bahkan menelepon. Padahal Alsa sudah dalam kondisi sakit yang sangat parah seperti yang bisa kamu lihat saat ini.”

Riesa mengajak Gozi menuju ruang tamu. Ia mempersilakan Gozi duduk. “Aku yang mengirimu email kemarin dan aku bersyukur akhirnya kamu tahu semua ini. Tolong lupakan Alsa. Karena ia hanya seorang gadis pesakitan. Kamu hanya salah satu dari puluhan pria yang pernah diracuni olehnya. Kamu lihat sendiri kan kertas yang bertuliskan namamu dan nama laki-laki lainnya? Kalian adalah korban.” Riesa menajamkan tatapannya pada Gozi, “Dan satu hal yang harus kamu ikhlaskan, Sakura tidak pernah ada, Gozi!” Riesa memelankan suaranya.

Jiwa raga Gozi remuk. Tulang belulangnya terasa lepas dari persendian. Kulitnya seperti terkelupas dari daging-dagingnya. ‘Sakura tidak pernah ada’ itulah kata paling menyakitkan baginya. Seluruh raga dan hatinya sudah teracuni bau Sakura. Di setiap aliran darahnya sudah tercampuri nama Sakura. Bagaimana bisa ia dengan mudah mengiyakan bahwa Sakura tidak pernah ada?!

Gozi berlari menuju ruangan Alsa. Dari kaca tembus pandang ia menatap lekat gadis pesakitan yang sampai saat ini tak mengubah posisi duduknya. Kulitnya sawo matang. Rambutnya lurus tergerai dengan indah. Hidungnya mancung. Jemarinya lentik dan tubuhnya tinggi semampai. “Salam kenal, Sakura….” Gozi merapatkan tangannya di kaca jendela, menjabat penuh luka jemari Alsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s