Rio [True Story]

“Saya mah udah tau nama teteh sejak taun 2006” mau tak mau ucapan laki-laki muda dengan dialek  Sundanya yang begitu kental itu kutanggapi juga. “Oh, begitu ya?” aku mengangguk sambil menyeruput teh manis dingin dalam kemasan dus 200ml yang baru saja kubeli. Ya tuhan, masa iya, dia tahu namaku sejak lima tahun lalu sementara aku merasa baru kali ini melihatnya, gumamku dalam hati.

Ia laki-laki seumuranku, berkameja gaul warna biru dengan salur-salur kecil berwarna hitam. Kancing-kancingnya sengaja tidak dikaitkan sehingga aku dapat dengan jelas melihat kaos putih di dalamnya. Celana jeans belel sebetis dipadu sepatu kets warna putih memperkuat dugaanku kalau dia bukan baru pulang ngantor ataupun kuliah. Ia sedang jalan-jalan santai atau apapunlah namanya! Tubuhnya kurus dan tak terlalu tinggi, sekitar 5cm saja selisihnya dengan tinggiku yang hanya 158cm. Kulitnya agak kumal namun putih. Rambutnya yang lurus sengaja dibiarkan gondrong sampai menutupi daun telinga. Topi bertuliskan Blink-182 tersangkut dengan nyeleneh di rambutnya yang berantakan.

Aku terduduk di teras circle-K, di pinggir jalanan Dago yang tak pernah mati. Ya, jalan ini memang sangat padat. Mulai dari mobil mewah sampai sepeda ontel. Dari Pak presiden sampai pengamen dan pengasong, semuanya senang sekali menapaki jalan ini –termasuk aku-. Angin nakal dicampuri debu sesekali mengibaskan jilbabku yang tergerai menutupi dada. Rokku pun seringkali dibuat centil oleh sang angin. Haduh, merepotkan saja nih Mr.angin, lirihku. Kulihat laki-laki itu cengar-cengir mendapatiku yang tengah sibuk memegangi rok dan jilbab yang terbang tersenggol angin.

Laki-laki yang belakangan kutahu bernama Rio itu kini berdiri di arah jam 12 dariku. Kami saling berhadapan, walau sebenarnya aku sama sekali tak menatap ke arahnya. “Eits, stop!” kataku saat menyadari ia melangkah mendekatiku. Serta merta ia menghentikan ayunan kakinya sambil tersenyum. “Ya ampun, Teteh. Saya kan bukan penjahat.” Katanya menanggapi air mukaku yang sedikit cemas. “Hehe.” aku merasa tertangkap basah. ”Iya, tau kok. Tapi tolong jaga jarak minimal 2 meter. Bukan mahram euy.” kataku sambil mengibas tanganku tanda mengusir.

Rio, laki-laki asing yang ternyata memang sangat asing bagiku. Ia terlihat melentangkan tangannya yang sedang menenteng biola (Biola? Kenapa ia menenteng biola? Nanti saja kita bahas, oke!). Tampaknya ia mencoba mengaplikasikan teori bahwa satu lentangan tangan sama dengan satu meter. Dan setelah dua lentangan ia ukur, ia pun berdiri di situ. “Udah dua meter nih, Teh” ia menggaruk kepalanya, membuat rambutnya semakin bersilangan arah. “Bagus!” kataku mengangguk puas.

Biola? Ya, laki-laki bernama Rio itu ternyata seorang pemain biola. Ia mencari nafkah dari keterampilannya bermain biola. Ya, sebut saja ia sebagai salah satu dari puluhan pengamen yang mangkal di jalan Dago. Ummm, begitulah kenyataannya. Aku sendiri merasa hidup ini sungguh aneh. Tanpa terbayangkan sebelumnya, kini aku tengah berbincang-bincang dengan seorang pemain biola jalanan alias pengamen. It’s beyond my mind!

Pertemuanku dengan Rio berawal hari ini, jam ini tepatnya. Saat aku keluar dari circle-K dengan menenteng beberapa cemilan, ia menghadangku dan memintaku berhenti sejenak. “Hai, teteh Mustika.” ia dengan ajaib mampu melafalkan namaku.

Aku merasa sedikit risih ketika menyadari bahwa namaku diucapkan oleh seorang pengamen. “How can?” aku bertanya pada diri sendiri. Beberapa detik aku terdiam. Entahlah apa yang ada di kepalaku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk meladeni pengamen misterius ini. Ah, daripada mati penasaran, mendingan aku tanyain aja sama si pengamen itu, kataku sambil memutar arah kembali ke depan circle-K.

“Eh, kok tahu nama saya?” sengaja kupasang muka jelek dan tak bersahabat. Aku pun duduk di teras circle-K sambil menyeruput teh dingin –kebetulan aku merasa sangat haus karena baru pulang kuliah-. Rio yang telah berjarak dua meter dariku pun lantas membeberkan alasan mengapa ia tahu namaku.

“Dulu, pas teteh masih SMA, saya sering ngebantu teteh nyebrang jalan. Kebetulan saya suka lihat di buku yang teteh pegang ada nama Mustika Suci-nya” ia cengar-cengir lebih lebar. “Oya?” aku tersedak. Teh manis yang sudah mengaliri kerongkongan tampaknya memberontak ingin keluar lewat mulut. “Teteh mah pasti gak inget. Iya kan?” ia menggesek-gesek biolanya tanpa aturan. Sesekali ia mengangguk-anggukkan kepala. Aku hanya mampu bengong.

“Saya juga pernah ketemu sama teteh di RMHR. Waktu itu teteh lagi ngajarin matematika ke si Soni dan saya lagi latihan maen biola.” Celetukannya kali ini pun semakin membuatku tersedak. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan menyeruput teh. Daripada entar muntah karna shock, gumamku.

Pikiranku melayang ke masa dulu, saat aku sering berkunjung ke Rumah Musik Hari Rusli atau lebih kental disebut RMHR. RMHR adalah yayasan yang menampung anak jalanan kota Bandung. Anak-anak itu diajari alat musik, bahasa asing, mata pelajaran, karate, dan lain-lain. Aku dulu termasuk relawan yang ikut mengajar mata pelajaran SMP.

Beberapa kali aku mencoba membuka ratusan ribu folder di otakku, berharap ada satu folder di memoriku yang berhubungan dengan laki-laki ini. Kucoba menyocokkan nama Rio di memoriku. Berikut kurang lebih hasil pencarian yang telah terjadi di pikiranku:

Aku 1: Rio? Oh, itu kan tetangga depan rumah, anaknya Pak Haji Tiwa, tukang bangunan!

Aku 2: Haduh, Rio itu mah gak kayak gitu tampangnya

Aku 1: Oh, atau Rio si preman sekolah pas SMA? Mirip kan style-nya?

Aku 2: iiiih, itu kan Prio, bukan Rio!

Aku 1: ummm, atau mungkin dia teman sejurusanmu? Yang IPKnya 3.8?

Aku 2: Haduh, itu mah Ria, Ria Amitya!!!

Huh, sayang sekali, hasil pencarian otakku berbuah nihil!

“Udah gapapa kalau teteh lupa mah. Hehe.” sekali lagi aku tertangkap basah. Raut mukaku gampang sekali tertebak  olehnya. “Teteh kuliah di ITB ya? Keren euy!” dia kembali cengar-cengir dan aku kembali cengong.

Kini aku memberanikan diri menatapi wajah makhluk misterius ini dengan lebih detail. Matanya sipit, hidungnya mancung, dan sesekali terlihat lesung pipit di pipi sebelah kiri. Hm, orang ini rasanya terlalu rapi untuk berprofesi  sebagai ‘pengamen’, ujarku.

Tiba-tiba saja aku merasa ada kebekuan yang mencair di sekelilingku. Siapa yang menyangka kalau seorang anak jalanan seperti dia bisa menjadi sangat menyenangkan. Ucapannya lugas tapi sopan. Dan satu hal menarik yang dimilikinya adalah, ia selalu tersenyum ramah. “Aduh, bodoh banget aku ini! Kenapa aku gak ingat siapa kamu, ya?” kataku mencoba menyalahkan diri sendiri, berharap ia tak kecewa dengan kepikunanku.

“Haha, gapapa, Teh. Wajar kok. Saya kan cuma pengamen.” sekali lagi ia merendah, dan sikap merendahnya itu justru membuatnya jauh lebih bersahaja. “Iya, maap ya.” Kataku mencoba memperbaiki keadaan.

Beberapa detik berselang, ia merogok saku jeansnya dan mengeluarkan sebuah handphone. Kalau dilihat dari bentuknya, orang buta sekalipun akan tahu kalau itu adalah handphone bergaya touch screen (mana ada!). “Teh, boleh gak saya minta nomor handphone? Kalau-kalau nanti teteh butuh tukang pikul, hehe” ia mulai memijit-mijit layar handphonenya.

Hey, tunggu, aku berkata pada diriku. Bukannya itu iphone ya? Ah masa sih dia punya iphone? Eh tapi itu beneran iphone! Aku semakin hilang pikiran. Semua impuls sarafku bertabrakan, yang harusnya lewat jalur A malah lewat jalur B. Yang harusnya muncul belakangan, eh malah nongol duluan. Aku mendadak gila.

“Eh, maaf aku buru-buru. Duluan ya” aku membuang dus minumanku ke tong sampah di depan circle-K lantas bergegas pergi. Entahlah, aku hanya tak ingin terlibat lebih lama lagi dalam pembicaraan aneh itu. Dengan sigap ku stop angkot Kalapa-Dago yang melintas, tak berani lagi aku melirik ke arahnya.

Setelah beberapa meter angkot melaju, aku menoleh lagi ke arah circle K. Kulihat ia kembali bergabung dengan teman-temannya sesama pengamen. Kini angkot melaju semakin jauh, dan Rio terlihat semakin mengecil. Tapi hey tunggu! aku terperanjat. Kulihat ia membuka pintu mobil Yaris yang terparkir di depan circle-K dan mobil itu pun bergerak maju beberapa detik kemudian.

HOW CAN?!

8 thoughts on “Rio [True Story]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s