The Pegasus #1

Sore ini aku melihat Perseus memotong leher Medusa. Tetes demi tetes darah tampak merembesi leher wanita penghuni langit yang tengah disembelih itu. Darah kian mengocor deras, tertumpah bak hujan, berjatuhan dari langit menuju planet bumi.

Ribuan tetes darah tercebur ke Laut Dome –aku sendiri yang menamainya Laut Dome-, sementara tetesan lainnya mendarat di tanah, di atap rumahku, bahkan di jidatku. “This is real! Ini nyata!” teriakku sambil menghapus darah di jidat. Semua ini memang nyata karena aku benar-benar merasakan ada darah Medusa di jidatku. Setelah hampir dua jam aku berdiri menatapi langit dari bingkai jendela di kamarku, akhirnya aku dapat menyaksikan adegan-adegan mitologi Yunani itu secara kasat mata. “That’s cool!” gumamku dalam hati.

Perhatianku kini beralih, dari menatapi langit menjadi menatapi riakkan Laut Dome. Aku mengawasi darah-darah yang memerahi laut. Sungguh nyata! Laut Dome tiba-tiba saja terlihat jelas di hadapanku, padahal secara logika, sekelilingku seharusnya hanyalah sebuah kompleks perumahan warga Birmingham, Inggris.

Dalam gemuruh Laut Dome, tiba-tiba saja aku melihat sesosok kuda terbentuk dari campuran darah dan air laut. Otot-otot pahanya membentuk relief yang seksi. Ekornya terlihat jauh lebih memesona dibanding bintang iklan sampoo sekalipun. Keseluruhan kulit dan rambutnya berwarna putih, hanya keempat tapal kakinya saja yang berwarna putih kecoklatan.

Pegasus!

Ya! aku, yang tak lain adalah laki-laki kecil berusia enam tahun, kini menjadi satu-satunya manusia yang menyaksikan lahirnya kuda bersayap ini ke bumi. Dari darah Medusa lahirlah pegasus, persis sekali Mitos Yunani yang kubaca semalam. Kini kulihat ia menggeliat, mengepak-ngepakkan sayap putihnya di atas beriak air laut. “Pegasus benar-benar ada di muka bumi!” teriakku saking terpesonanya. Ia berputar-putar di atas laut layaknya burung camar yang tengah berpatroli mencari mangsa.

“Plaaaaaaak!” tiba-tiba saja pipiku ditampar oleh seorang wanita berbadan besar. Kebahagiaan bertemu pegasus kini berubah menjadi ketakutan bertemu wanita monster ini. Bulu romaku berdiri, urat kepalaku menegang.

“Hey, idiot! What are you f*cking doing here? Close the window, now!” ia menyuruhku menutup jendela. Suaranya yang berfekuensi hampir 20 ribu hertz, nyaris membuat gendang telingaku pecah berkeping-keping. “Bodoh!” Sekali lagi ia menampar pipiku tanpa ampun, kemudian berlalu meninggalkan kamar. Aku pun menutup jendela dengan perasaan kalang kabut, takut!

——————sss—————

“Akhhhhhhh!” aku menjerit. Telapak tanganku melepuh di bagian tengah. Wanita berbadan besar itu telah menusukkan rokoknya yang menyala ke tanganku. Aku menangis sesenggukkan. Sakit bercampur takut kini menjadi  perasaan utamaku.

Merasa belum puas, wanita itu kemudian mementalkan kepalaku ke dinding sebanyak dua kali, dan tak tanggung-tanggung ia mendorong tubuhku hingga tersungkur di lantai rumah. Kini mataku berkunang-kunang. Tanganku terbakar. Tulang belulangku terasa patah. “Heh, idiot! Kenapa kamu selalu bertingkah menyebalkan?” logat inggrisnya yang kurang jelas membuatku sulit menangkap maksud perkataannya.

“Heh you, can’t you hear me? Gak denger Mommy nanya apa?” wanita itu menendangku yang masih terkapar di lantai. Tendangannya tepat menjurus ke bagian perutku. “I didn’t hear you, Mom! Aku gak denger Mommy ngomong apa!” Aku memohon ampun sambil menangis, berharap ia berhenti menendangi perutku.

Itulah aku, laki-laki kecil berusia enam tahun yang malang. Ibuku begitu membenciku. Ia mengataiku tak waras. Seringkali ia menjambak rambutku lantas menjedukkan kepalaku ke dinding. Ia pun sering memukuliku dengan ikat pinggang, sampai-sampai tak ada sesenti pun dari tubuh ini yang tak lebam. Ia selalu ingin mengusirku dari rumah, agar tak ada lagi manusia idiot di rumah kami, ujarnya.

*To be continued*

Note from the writer:

This is just the beginning of the story. The Pegasus #2 will be more entertaining and makes your brain fresh! Please kindly visit my blog again if you wanna know how the story ends. Thanks😀

One thought on “The Pegasus #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s