Domba Kesepuluh

Ingin kutendang jauh-jauh rasa kantuk yang bertamu bersama gelap. Ingin rasanya menjadi penikmat insomnia yang tak lekas tidur di hitungan domba ke sepuluh. Ingin sekali meneguk seliter kopi, sehingga kapoklah rasa takut kekanakan ini menjamahku di kala lelap.

Ya, memang sangat lucu. Di kala para penginjak bumi dengan riang mengucapkan selamat tidur. Di saat umat manusia berhenti bergerak demi mengusir penat lewat mimpi. Di saat itulah sejuta sel tubuhku bergelora, menolak menutup mata. “Aku takut bermimpi, Barney…” gumamku pada Barney, boneka dinosaurus pink yang kini merebah kaku di kasurku. Barney dengan baik hati berbagi tempat tidur denganku. Dan kini akupun tergolek lunglai menghadap langit-langit.

Keseluruhan raga ini sengaja kubuat terlentang membentuk angka satu, yang berarti tak secuil pun dari tiap lekukan tubuh ini yang membengkok membentuk sudut. Kakiku terjulur lelah, sehingga tekstur seprei terasa menyentuh jengkal demi jengkal kulit kakiku yang rapuh. Kedua tangan kini menempel ke bagian samping tubuhku, persis komandan paskibra yang bersiaga di upacara bendera. Bagian belakang kepalaku pun enggan kusangkuti bantal, berharap dengan posisi seperti ini aku tak terlalu merasakan luka.

“Aku benar-benar takut menutup mata, Barney…” bisikku pelan di telinga Barney. Keseluruhan badanku tetap menghadap langit-langit, hanya mukaku saja yang menatap nanar ke arah Barney. “Karena setiap kali mataku terpejam, ia akan datang pada hitungan domba ke sepuluh” suaraku semakin tertahan, khawatir pembicaraan kami terdengar oleh siapapun yang memiliki telinga. “Dan tahukah kamu Barney?” Aku menajamkan pandanganku ke arahnya, “Dia lantas akan menyakitiku lewat mimpi” aku meraih Barney seraya mendekapnya. Kubiarkan makhluk tak bernyawa ini mendengar gemuruh jantungku.

***

“Hai! Lama tak jumpa,” sesosok pria secara tiba-tiba muncul di depanku. Ia masih saja mengenakan jaket hitam yang itu-itu lagi. Tangan kirinya merogok saku celana sementara tangan kanannya bergerak-gerak mendadahiku. Suara itu. Tatapan itu. Senyum itu. Akhhh, akhirnya kami bertemu lagi disini, gumamku dalam hati.

Koridor gedung! Ya, di tempat inilah pertama kali aku melihatnya. Di tempat ini pulalah seringkali kulambatkan langkah kaki dengan sengaja, berharap dapat berpapasan dan bertegur sapa dengannya. Disinilah, di koridor ini, aku tertatih menunggunya selama hampir dua periode musim gugur.

Ajaib! Sungguh ajaib! Di tempat ini, di detik ini, di musim gugur kali ini, retinaku kembali menangkap sosoknya. Gendang telingaku kembali bergetar mendengar riuh decak suaranya. Molekul-molekul tubuhku kembali meloncat-loncat mencium kehadirannya yang melegakan. “Hai… senang bertemu lagi denganmu, Kak” suaraku bergetar, menandakan betapa bahagianya aku.

Sedetik kemudian samar-samar kudengar alunan musik. Entah datang darimana, entah dikirim siapa, musik itu perlahan-lahan membuatnya melangkah mundur. Wajahnya tak lagi berekspresi. Langkah kaki yang diayunkannya seolah bukan atas perintah otaknya.

Ah, haruskah kamu pergi lagi, Kak? lirihku dalam hati. Kini dia menjauh dan semakin jauh, sampai-sampai hanya setitik hitam saja yang dapat kutatapi.

Tiba-tiba saja, “braaaaaak!!!” sepaket tubuhku ambruk di bawah kasur. Aku bermimpi. Kudapati pipi ini basah berair.

Ya, dia kembali menyakitiku, lirihku sembari mengusap air mata buah tangan mimpiku barusan. Ia datang  saat aku menghitung domba kesepuluh dalam tidurku. Hatiku melepuh, perih sekali!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s