[a must] I Wanna Be a History, Not an Ordinary

I wanna be rich, to enrich people

I wanna get more, to give more

I wanna be a history, not an ordinary

Beberapa bulan lalu saya iseng-iseng membuka profil Facebook seorang teman mahasiswa Farmasi ITB. Sayangnya, hingga postingan di blog ini saya buat, saya tak kunjung ingat siapa teman yang telah saya bajak statusnya ini. (Maaf ya kawan, hehe).

I wanna be… I wanna be… I wanna be…! Begitulah teman saya menuliskan satu per satu keinginannya. Beberapa detik saya terdiam mendalami seurai coretan sederhana namun memiliki arti yang tidak sederhana itu. Bagai magic, kalimat itu dengan tepat dapat menyentuh alam bawah sadar saya. Tulisan itulah yang kemudian bertanggung jawab atas menyelusupnya pikiran saya menuju masa tiga tahun silam (masa dimana saya masih mengenakan baju berkantong banyak (putih abu), yang di tiap kantongnya saya selipkan sejuta mimpi untuk masa depan).

Saat itu saya menenteng sebuah alas yang terbuat dari melamin, 14 buah pensil 2B, dan 3 penghapus Boxy. Sebuah kartu peserta warna kuning menggelantung di baju saya bagian kiri. Ya, saat itu saya berstatus sebagai salah satu dari ratusan ribu siswa yang mengadu masa depan lewat SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru).

Berbekal ilmu yang saya serap selama 3 tahun hidup di SMA N 2 Bandung, Bermodal doa dari orang-orang tersayang serta kepercayaan diri atas takdir Allah swt, saya pun melangkahkah kaki dengan berat menuju ruang ujian. “Ini untuk Allah. Jika saya lulus, insyaAllah saya akan lebih giat membela agama-Mu, Ya Allah!” itulah nadzar sekaligus kata terakhir yang saya celotehkan dalam hati sebelum akhirnya saya memulai mengerjakan soal.

To break off the seal, i bent alot.

Begitulah saya. Saya bukan sesosok makhluk cerdas yang dapat melahap ilmu dengan renyah dan enteng. Saya pun bukan seorang manusia berIQ tinggi yang memerlukan hitungan detik saja untuk dapat menyerap pengetahuan. Saya hanya manusia yang jika bekerja keras (bahkan bekerja sangat keras), baru saya akan diupahi kesuksesan. Yeah, to break off the seal i have to bend alot!

Namun kali ini saya terpuruk. Setelah akhirnya Allah memberikan kemenangan pada perang SPMB, saya malah menyiakannya. Tak ada kerja keras, tak ada sepak terjang yang menggigit dari diri saya. Hari-hari di ITB saya jalani tanpa mimpi besar, jauh berbeda dengan saya 3 tahun lalu. Bayangkan, dengan kerja keras saja saya seringkali merasa sulit, apalagi tanpa kerja keras? Begitu tak bergunanya hidup saya selama tiga tahun ini!

Kondisi saya tak lekas membaik, sampai akhirnya hari ini Allah memperingatkan bahwa kami masih punya perjanjian yang belum tertunaikan.

The Power of Dream! Ya, Allah menegur saya lewat diary yang kini saya genggam. Diary yang hampir 3 tahun tak pernah saya buka, kini kembali saya sentuh. Baru membaca halaman pertama saja saya langsung menangis, mengenang betapa bergelora dan bergunanya saya tiga tahun lalu.

“Ya Allah, izinkan aku menunaikan janjiku pada-Mu di sisa-sisa hariku di Kampus Ganesha ini”

Advertisements

[a thought] Pulang Kampung = Jihad ?

Bagi seseorang yang menyenangi menulis seperti saya, maka ketika keinginan menulis ini begitu mencubiti kulit, saya tak akan segan-segan memainkan kedua jempol ini untuk mengetik, kapanpun dimanapun!

Setelah beberapa waktu lalu saya membuat mobile note di kereta malam menuju Jogja, mobile note kali ini saya buat dalam mobil elf yang sumpek dan reyot tujuan Subang (pulang kampung! Hahay). So, mari kita berbicara ttg pulang kampung, yang memang hal ini selalu membuahkan kisah yang menggigit bagi masing-masing orang.

Bagi saya pribadi, pulkam -secara ajaib- dapat mencairkan segala bentuk kepenatan yang menggumpal baik di otak maupun hati. Fresh! Namun dibalik fenomena pulang kampung ini pada hakikatnya terselip makna fundamental yang entah hanya berapa banyak manusia yang paham.

JIHAD! Ya, Jihad! Siapa yang menyangka kalau selain untuk merefresh otak, pulkam juga dpt digunakan sebagai sarana berjihad? Dalam sebuah hadist Bukhari disebutkan, Seorang pemuda datang pada rasulullah saw seraya berkata, “Ya Rasul, aku ingin berjihad”. Rasul kemudian bertanya, “Apakah engkau masih punya orang tua?” Pemuda itu menjawab, “Ya”. Rasul kemudian berkata, “Maka dengan memenuhi kebutuhan orangtuamu lah, kamu berjihad”.

See, people? Dengan memenuhi kebutuhan orang tua selama kita berlibur di kampung, keutamaannya ternyata sama dengan berjihad di jalan Allah.

Selamat mencicipi 😀

The Pegasus #1

Sore ini aku melihat Perseus memotong leher Medusa. Tetes demi tetes darah tampak merembesi leher wanita penghuni langit yang tengah disembelih itu. Darah kian mengocor deras, tertumpah bak hujan, berjatuhan dari langit menuju planet bumi.

Ribuan tetes darah tercebur ke Laut Dome –aku sendiri yang menamainya Laut Dome-, sementara tetesan lainnya mendarat di tanah, di atap rumahku, bahkan di jidatku. “This is real! Ini nyata!” teriakku sambil menghapus darah di jidat. Semua ini memang nyata karena aku benar-benar merasakan ada darah Medusa di jidatku. Setelah hampir dua jam aku berdiri menatapi langit dari bingkai jendela di kamarku, akhirnya aku dapat menyaksikan adegan-adegan mitologi Yunani itu secara kasat mata. “That’s cool!” gumamku dalam hati.

Perhatianku kini beralih, dari menatapi langit menjadi menatapi riakkan Laut Dome. Aku mengawasi darah-darah yang memerahi laut. Sungguh nyata! Laut Dome tiba-tiba saja terlihat jelas di hadapanku, padahal secara logika, sekelilingku seharusnya hanyalah sebuah kompleks perumahan warga Birmingham, Inggris.

Dalam gemuruh Laut Dome, tiba-tiba saja aku melihat sesosok kuda terbentuk dari campuran darah dan air laut. Otot-otot pahanya membentuk relief yang seksi. Ekornya terlihat jauh lebih memesona dibanding bintang iklan sampoo sekalipun. Keseluruhan kulit dan rambutnya berwarna putih, hanya keempat tapal kakinya saja yang berwarna putih kecoklatan.

Pegasus!

Ya! aku, yang tak lain adalah laki-laki kecil berusia enam tahun, kini menjadi satu-satunya manusia yang menyaksikan lahirnya kuda bersayap ini ke bumi. Dari darah Medusa lahirlah pegasus, persis sekali Mitos Yunani yang kubaca semalam. Kini kulihat ia menggeliat, mengepak-ngepakkan sayap putihnya di atas beriak air laut. “Pegasus benar-benar ada di muka bumi!” teriakku saking terpesonanya. Ia berputar-putar di atas laut layaknya burung camar yang tengah berpatroli mencari mangsa.

“Plaaaaaaak!” tiba-tiba saja pipiku ditampar oleh seorang wanita berbadan besar. Kebahagiaan bertemu pegasus kini berubah menjadi ketakutan bertemu wanita monster ini. Bulu romaku berdiri, urat kepalaku menegang.

“Hey, idiot! What are you f*cking doing here? Close the window, now!” ia menyuruhku menutup jendela. Suaranya yang berfekuensi hampir 20 ribu hertz, nyaris membuat gendang telingaku pecah berkeping-keping. “Bodoh!” Sekali lagi ia menampar pipiku tanpa ampun, kemudian berlalu meninggalkan kamar. Aku pun menutup jendela dengan perasaan kalang kabut, takut!

——————sss—————

“Akhhhhhhh!” aku menjerit. Telapak tanganku melepuh di bagian tengah. Wanita berbadan besar itu telah menusukkan rokoknya yang menyala ke tanganku. Aku menangis sesenggukkan. Sakit bercampur takut kini menjadi  perasaan utamaku.

Merasa belum puas, wanita itu kemudian mementalkan kepalaku ke dinding sebanyak dua kali, dan tak tanggung-tanggung ia mendorong tubuhku hingga tersungkur di lantai rumah. Kini mataku berkunang-kunang. Tanganku terbakar. Tulang belulangku terasa patah. “Heh, idiot! Kenapa kamu selalu bertingkah menyebalkan?” logat inggrisnya yang kurang jelas membuatku sulit menangkap maksud perkataannya.

“Heh you, can’t you hear me? Gak denger Mommy nanya apa?” wanita itu menendangku yang masih terkapar di lantai. Tendangannya tepat menjurus ke bagian perutku. “I didn’t hear you, Mom! Aku gak denger Mommy ngomong apa!” Aku memohon ampun sambil menangis, berharap ia berhenti menendangi perutku.

Itulah aku, laki-laki kecil berusia enam tahun yang malang. Ibuku begitu membenciku. Ia mengataiku tak waras. Seringkali ia menjambak rambutku lantas menjedukkan kepalaku ke dinding. Ia pun sering memukuliku dengan ikat pinggang, sampai-sampai tak ada sesenti pun dari tubuh ini yang tak lebam. Ia selalu ingin mengusirku dari rumah, agar tak ada lagi manusia idiot di rumah kami, ujarnya.

*To be continued*

Note from the writer:

This is just the beginning of the story. The Pegasus #2 will be more entertaining and makes your brain fresh! Please kindly visit my blog again if you wanna know how the story ends. Thanks 😀

[a word] Truly Beautiful Words of KCB

Cinta menurutku,

Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar

Namun jika cinta kudatangi, aku jadi malu pada keteranganku sendiri

Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang

Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang

Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya

Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta

Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya

Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur

Cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan

[a talk] Nice Children

This slideshow requires JavaScript.

Yups, i don’t know why i love children so much. They -magically- could chase my bored time away.  We usually sing Barney’s Theme song, draw butterfly, perform  ballet dance, play congklak (traditional games), etc.

They love me, and so do I. Though my room turns to a messy one, i just love it.

in this picture: Mafaza (sepupu), Mazida (sepupu), Putri (tetangga kosan), Gilang (tetangga kosan).

[a word] Malam Ini Tentangmu

Satnight, 171010 @Kereta Malam menuju Jogja, 11.31 PM.

Masih saja guratanmu mememarkan jantungku. Tak bosannya memorimu menghantam karang otakku. Aku dalam dunia kaca, dunia yang dalam setiap sudutnya adalah dirimu.

Kali ini pun tentangmu. Selalu tentangmu. Tentang benang lalu yang tak sempat beradu padu.

Aku kini tertatih di jembatan masa, bersamamu dari masa lalu. Engkau tengah menatap, tapi tak padaku. Engkau tersenyum, tapi bukan untukku. Engkau membebaniku dengan menjadi indah ditiap baik-burukmu.

Domba Kesepuluh

Ingin kutendang jauh-jauh rasa kantuk yang bertamu bersama gelap. Ingin rasanya menjadi penikmat insomnia yang tak lekas tidur di hitungan domba ke sepuluh. Ingin sekali meneguk seliter kopi, sehingga kapoklah rasa takut kekanakan ini menjamahku di kala lelap.

Ya, memang sangat lucu. Di kala para penginjak bumi dengan riang mengucapkan selamat tidur. Di saat umat manusia berhenti bergerak demi mengusir penat lewat mimpi. Di saat itulah sejuta sel tubuhku bergelora, menolak menutup mata. “Aku takut bermimpi, Barney…” gumamku pada Barney, boneka dinosaurus pink yang kini merebah kaku di kasurku. Barney dengan baik hati berbagi tempat tidur denganku. Dan kini akupun tergolek lunglai menghadap langit-langit.

Keseluruhan raga ini sengaja kubuat terlentang membentuk angka satu, yang berarti tak secuil pun dari tiap lekukan tubuh ini yang membengkok membentuk sudut. Kakiku terjulur lelah, sehingga tekstur seprei terasa menyentuh jengkal demi jengkal kulit kakiku yang rapuh. Kedua tangan kini menempel ke bagian samping tubuhku, persis komandan paskibra yang bersiaga di upacara bendera. Bagian belakang kepalaku pun enggan kusangkuti bantal, berharap dengan posisi seperti ini aku tak terlalu merasakan luka.

“Aku benar-benar takut menutup mata, Barney…” bisikku pelan di telinga Barney. Keseluruhan badanku tetap menghadap langit-langit, hanya mukaku saja yang menatap nanar ke arah Barney. “Karena setiap kali mataku terpejam, ia akan datang pada hitungan domba ke sepuluh” suaraku semakin tertahan, khawatir pembicaraan kami terdengar oleh siapapun yang memiliki telinga. “Dan tahukah kamu Barney?” Aku menajamkan pandanganku ke arahnya, “Dia lantas akan menyakitiku lewat mimpi” aku meraih Barney seraya mendekapnya. Kubiarkan makhluk tak bernyawa ini mendengar gemuruh jantungku.

***

“Hai! Lama tak jumpa,” sesosok pria secara tiba-tiba muncul di depanku. Ia masih saja mengenakan jaket hitam yang itu-itu lagi. Tangan kirinya merogok saku celana sementara tangan kanannya bergerak-gerak mendadahiku. Suara itu. Tatapan itu. Senyum itu. Akhhh, akhirnya kami bertemu lagi disini, gumamku dalam hati.

Koridor gedung! Ya, di tempat inilah pertama kali aku melihatnya. Di tempat ini pulalah seringkali kulambatkan langkah kaki dengan sengaja, berharap dapat berpapasan dan bertegur sapa dengannya. Disinilah, di koridor ini, aku tertatih menunggunya selama hampir dua periode musim gugur.

Ajaib! Sungguh ajaib! Di tempat ini, di detik ini, di musim gugur kali ini, retinaku kembali menangkap sosoknya. Gendang telingaku kembali bergetar mendengar riuh decak suaranya. Molekul-molekul tubuhku kembali meloncat-loncat mencium kehadirannya yang melegakan. “Hai… senang bertemu lagi denganmu, Kak” suaraku bergetar, menandakan betapa bahagianya aku.

Sedetik kemudian samar-samar kudengar alunan musik. Entah datang darimana, entah dikirim siapa, musik itu perlahan-lahan membuatnya melangkah mundur. Wajahnya tak lagi berekspresi. Langkah kaki yang diayunkannya seolah bukan atas perintah otaknya.

Ah, haruskah kamu pergi lagi, Kak? lirihku dalam hati. Kini dia menjauh dan semakin jauh, sampai-sampai hanya setitik hitam saja yang dapat kutatapi.

Tiba-tiba saja, “braaaaaak!!!” sepaket tubuhku ambruk di bawah kasur. Aku bermimpi. Kudapati pipi ini basah berair.

Ya, dia kembali menyakitiku, lirihku sembari mengusap air mata buah tangan mimpiku barusan. Ia datang  saat aku menghitung domba kesepuluh dalam tidurku. Hatiku melepuh, perih sekali!