MELAWAN RIBA (tulisan tendensius)

Warning:
1. Bagi yang merasa bahwa berurusan dengan bank adalah lumrah, bunga bank adalah lumrah, riba adalah lumrah, i suggest you not to take time to read my writing 😊

2. I always agree and sami’na wa atha’na terhadap MUI, including keputusan MUI terhadap bank syariah. I have no doubt about that.

image

Ini adalah sebidang tanah dengan luas 530meter persegi yang dibeli suami saya tempo hari. Luas yah 😊.. Jika didirikan sebuah rumah, tentu saja akan menjadi sangat sangat luas. Lokasinya bagaimana? All praise be to Allah, lokasi tanah ini adalah tepat disamping pondok pesantren. Sebuah nikmat tiada tara karna bisa bersanding dengan pesantren 😊

Dibalik pembelian tanah ini ada sejuta keajaiban. Still have courage to read the story? Check it out guys!

Taun 2012 saya menikah. Suami saya tak punya apa-apa. Dia benar-benar datang ke rumah dengan tangan kosong. He just promised me one thing: he would always try to make me happy. Thats all.

Lalu kami menjalani kehidupan sederhana karna sebagai abdi negara, suami saya sangat berhati-hati dengan uang yang datang di depan mata. Bahkan saya sempat ikutan stress melihat begitu banyak fiktivisasi *ngarang banget ini istilahnya wkwk*, even utk perjalanan dinas saja terkadang harus memanipulasi tiket travel *ini disebabkan birokrasi yg acak2an dan ga support kejujuran, jadi banyak pegawai yg terpaksa melakukan fiktivisasi daripada harus nombok pake uang pribadi*. Oke mari lupakan saja tentang birokrasi di negeri ini. Back to the topic.

Suatu ketika suami saya memberi tahu sebuah keputusan yang berat (bagi saya terasa berat euy waktu itu!hehe). Beliau bilang, ” kita tidak akan pernah berurusan dengan cicilan bank. Abang akan berusaha sebaik mungkin. Kita beli rumah dan kendaraan secara cash!”

JLEBB.
I know that i can count on him. Beliau bisa diandalkan dalam hal apapun. Tapi dengan kondisi sebagai abdi negara, dengan gaji yang ngepassss, i had no idea bagaimana caranya membeli rumah secara cash (?). Waktu itu saya hanya berdoa kepada Allah, agar diberi jalan terbaik.

Menginjak pernikahan ketiga tahun, aroma utk menyicil rumah ternyata tak kunjung datang. He walked his talk. Dan beliau selalu meminta saya percaya. Dia ceritakan kepada saya tentang sistem riba bank, dia beri saya insight tentang KPR, dia jelaskan tentang bank syariah ( adanya bank syariah sangatlah membantu ekonomi islam, meski masih banyak kekurangan), dia jelaskan mengapa berurusan dengan bank adalah the worst decision in our life. Sejak itu saya mulai berteguh hati dan yeayyy! keajaiban mulai datang silih berganti.

Membeli tanah (dan insyallah rumah) tanpa berurusan dengan bank ternyata Allah kabulkan dengan cara-Nya sendiri. Dengan sangat sangat indah, dan tentunya Rasional 😊

Membeli rumah di jakarta atau bandung secara cash, dengan status suami saya sebagai abdi negara dan saya sebagai ibu rumah tangga ternyata memanglah tidak mungkin, dan tahukah apa yang dilakukan Allah? Allah tahu bahwa kami serius menyoal riba. Keyakinan kami bukan hanya dalam kata. And He handle this case seriously too!!!

Perlahan Allah giring kami ke sebuah desa, dan kami membangun usaha disana. This is logical, karna di desa memang harga tanah masih murah dan peluang utk membeli rumah secara cash lebih besar. Setelah melewati banyak drama (saat memutuskan utk resign dr kantor), here we are.. terdampar di pedesaan.. tanpa kami rencanakan setitikpun sebelumnya.

time flies..
Di suatu hari yang cerah, Allah kembali memberikan keajaiban. Kami tak punya uang cash banyak waktu itu. Tapi Allah suguhi kami sebidang tanah utk dimiliki. Dengan cara cash? No way. Thats impossible karna kami memang tak punya. Lalu? Allah tawari kami cicilan. Lewat bank kah? No way 😊😊

Tarik nafas dulu…
Allah tawari cicilan tak berbunga lewat sepupu kami/pemilik tanah. Apakah kami yang meminta? Tidak. Sepupu kami menawarkan tanah beserta cicilannya dengan sukarela. Allah lapangkan hati sepupu kami (semoga allah selalu merahmati beliau). Beliau memperkenankan kami menyicil tanah tersebut secara langsung ke beliau. Tanpa bunga. Tanpa riba. Tanpa BANK. Bahkan beliau tak mengambil untung sedikit pun dari penjualan tanah tersebut. Beliau katakan, “ini tanah jodohnya kalian. silakan aja dicicil semampunya sampai lunas😊”

Got it! All praises be to Allah. Sekarang kami punya tanah yg luas, dengan cara pembayaran cicilan sih, tapi tanpa berurusan dengan bank. Thats so amazing! Alhamdulillaaah.. semoga tulisan ini bisa menginspirasi.. ketika kita serius menjalankan perintah Allah, Allah lebih serius mengurusi kebutuhan kita. InsyaAllah

April Keempat

April keempat means everything for me. Masya Allah! I’ve been living with him for 4years! 😍😍😍

Tahun lalu aku nulis ttg april ketiga diblog ini, link: https://ucimaruci.wordpress.com/2015/01/11/april-ketiga/ yang mana tulisan ini nunjukin bahwa aku masih saja amazed dgn kehadiran suamiku di hidupku. Hehe. Even today, when i am writing this, i am just still amazed that he is my husband *blessed mode on*

Life that we are living today rasanya lebih seru dan menantang. Tanpa terduga akhirnya we decided to stay here. Didesa kelahiran sayaa! Sempat membuat kegaduhan sih di desa ini, karna kami pindah ke desa dengan titel “pengangguran” hahaha..

Disini memang bukan hanya dinding yang bisa bicara. Padi, rumput, bebatuan, angin, tetangga dekat, tetangga jauh, pak RT, pak RW, semuanya bisa bicaraπŸ˜‚πŸ˜‚. Jadi kebayang kan gimana hebohnya when they know that us, me and my husband, memutuskan utk menumpang di rumah ortuπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…. Betapa ibanya mereka pada kami. Tak sedikit dari mereka yang bertanya, “suaminya neng Uci ga kerja?”

Tapi itu ga mengganggu kami sih (walaupun mungkin sebenarnya mah mengganggu ortu kami) hehe. Sampe akhirnya isu itu hilang seiring dengan isu baru yg berhembus, “suaminya neng Uci resign dan memilih utk berwirausaha.” They knew! Tentunya tanpa saya beritahu. *efek pedesaan.wkwk*

Yap. Kami sudah berada ditahap ini. Meninggalkan dunia yang dulu dan mulai menjalankan aktivitas yang baru. BERDAGANG. And it sounds delicious!😜😜😜😜

Banyak sekali yang bertanya perihal ini pada saya dan suami.. why oh why.. why we chose this kind of life? Well.. Alasan utama dan satu-satunya adalah: KAMI INGIN PUNYA WAKTU YANG FLEKSIBEL, BANYAK, DAN BERKUALITAS DALAM MENGURUS DAN MENDIDIK ANAK-ANAK. Karna bagi kami, amanah anak ini adalah amanah terberat.. dan kami harus bisa mengerjakan amanah ini dengan sangat baik.

Alasan lain? Gak ada😊. Benar-benar gak ada.  Doakan saja ya supaya kami bisa tetap walk our words. Doakan segala sesuatunya lancarrr. Aamiin

Here we come.. di April keempat.. semoga selalu sakinah mawaddah warahmah😊😊😊

BUDAYA NGEBULLY

TAU BEDANYA BULLY DAN KRITIK?
Kalo ngasi masukan, komplenan, even cercaan ke seseorang via medsos, diumbar kemana-mana, dan mostly tanpa tabayyun dulu ke orangnya, itu namanya ngebully.

Kalo ngasi masukan, ke jalur yang benar, misal via japri, via customer care (utk urusan bisnis), tanpa diumbar, tanpa perlu seluruh dunia tahu, itu namanya mengkritik.

You choose. Mau mengkritik atau ngebully. But at my point of view, critic never failed anyone. Sementara bully gak akan menghasilkan apa-apa.

Bijak ya dalam mengkritik 😊
Semua hal ga bisa sesuai keinginan kamu loh.

Gagal paham sama orang yg doyan komplen thd sesuatu lewat medsos/kaskus. Kamu dapet apa sih dari kegiatan lucu kamu itu? #emakngomel

Can’t Sleep Tonight

Saya tau, bagi seorang emak dengan dua bocah, yang juga megang olshop dengan ribuan order, senampaknya gak bobo semaleman adalah ide yang buruk sekali. Exactly bad. Kenapa? Karna besoknya harus stay waras lagi menjalani aktivitas, sedangkan kalau selamalam begadang malah  akan memicu problem yg sangat besar, yakni, “bad mood dan ngantuk”. Hehe.

Tapi malem ini saya beneran gak bisa bobo😒😒 Terlalu seru blog walking di blog saya sendiri (?) *mulai random*. Ketawa ketiwi bernostalgia kenapa saya menulis ini.. menulis itu.. and.. after read all the posts,  here i come to conclusion:

Genre tulisan saya ada di 4 macam genre saja:
1. Tulisan galau
2. Tulisan semangat
3. Tulisan agamis
4. Romance (dan ini paling banyak pisan)

Tulisan-tulisan bergenre galau saya tulis ditaun 2009-2010.. dimana saat itu sy diajakin kawin sama anak orang sementara saya masih brondong dan masih polos (?) Hahaha. Gak baper sih waktu itu.. gak pake perasaan juga. Karna at that moment saya sadar bahwa saya belum siap menikah, so i had to keep my heart clean from “wrong” feelings. I closed the door for any guys who knocked. Tulisan berjudul “titik hampir” (silakan search ya) adalah tulisan yang menunjukkan bahwa saya sukses utk tidak mencintai siapa-siapa disaat itu.

Lalu kemudian genre semangat kebanyakan saya tulis di taun 2011. Saat itu i had one big project ngurus anak-anak jalanan. Sebenarnya ngurus anak jalanan ini udah saya kerjakan dari SMA, tapi rasanya ditahun 2011 itu saya benar2 serius. Sering banget nangis dipojokan mikirin anak-anak. Sering pulang jam 12 malem demi keep in touch sama mereka. Sering nongkrong di pinggir jalan mantengin mereka saat ngamen. Yah, mahasiswa bangetlah.

And when 2012 coming..
Sy dikhitbah oleh cowo yg baru sy kenal akhir 2011. Why? Karna saya suka cara dia menghargai saya. Dia gak pakai janji manis ini itu. He just came to my father and said that he wanted me to be his partner in life. Dan dari situ genre blog saya berubah jadi penuh romansaπŸ˜…πŸ˜…. Contohnya tulisan ini, https://ucimaruci.wordpress.com/2012/06/20/menikah-denganmu-the-day/ and i am just wondering, sampe detik ini, setiap saya membaca tulisan ini, kok ya hati saya bergetar2, bereuforia, dan perasaan cinta itu tetap muncul dengan kuat, sama seperti dulu saat saya baca pertama kali.. maybe this was the power of words, i think. Saya masih suka terharu baca tulisan romance saya diblog ini.

And now, Genre agak berubah setelah saya dan suami merintis bisnis. Pengennya nulis ttg bisniiiisssss terus. Tentang omset. Tentang karyawan. Tentang produksi. Heuheu. Tapi blum kesampean nulisnya karna saya terlalu sibuk. Hopefully oneday i can write all about my business, not only on blog.. tapi juga dalam bentuk buku yg menginspirasi banyak orang. *banyak maunya nih uci*wkwk

Appreciate you.

Gausah pusing mikirin penghargaan dari orang lain, even from your closest one. They will never realize how hard you try until they wear your own shoes and wear your own glasses eye.

Be proud of yourself and let Allah judge you next. Sometimes you think you have done great, doing your job well, but someone you expected to be happy for what you’ve done, in fact, she didn’t apreciate you. Be calm. Dont be sad. Allah count it with excellent!

Just keep in your mind that every single thing will be counted! Nothing was created without function. Even a little sweat-streaming down your face-, it has a function. It can save you in the judgemental-day. It can say to Allah.. that you’ve done your best in life. And you’ll be safe as long as you do everything for the sake of allah. InsyaAllah.

dear hubby, hopefully my writing can occur your hurt. I am Sorry for not being a wise and good wife for you😦 Sorry for not appreciating what you’ve done for me. You did everything well, my dear. It’s just me who cannot see clearly what you’ve actually done for making me, Gi, and Enca happy.

In my deepest lobe of heart.. i admire you since the first time we met. I love you yesterday, today, and forever. I proudly say, you are my man.. and always be…… my man.

Milyader bertitel Ibu Rumah Tangga

“Maafin Hayatie bang kalo tulisan Hayatie kali ini lebih banyak bapernya, banyak capslocknya, dan cenderung tendensius penuh modus.hiks” *edisi sinetron*

Di suatu hari yang biasa aja sih awalnya, tiba-tiba menjadi luar biasa ketika oknum ibu-ibu berinisial P, sebut saja begitu, dateng ke saya tanpa angin tanpa badai. Tanpa angpau. Tanpa parcel, tanpa… hmm kok jadi banyak maunya giniπŸ˜…

Si ibu dateng nanyain saya-hayatie, kakak saya-sarinem, dan adek saya-kartono. Berikut dialog dengan sedikit modifikasi yang sukses membuat saya baper tujuh turunan:

Oknum P: Eh neng hayatie.. bla bla blaa.. kerja dimana sekarang?

Korban U: hehe di rumah aja sekarang mah..hehe *benerin jilbab*

Oknum P: *muka naas* kok gak kerja? *melihat ujung rambut sampe ujung kaki saya*. Kalo teteh sarinem kerja dimana?

Korban U: teteh kerja di Ward*h.

Oknum P: waaah hebaaat, pinter sih ya anak ITB. *it indicates gue kagak hebat dan kagak pinter.wkwk*

Korban U: iya hehe.. pinter..

Oknum P: kalau Kartono dimana sekarang?

Korban U: *siap dibully* Kartono kerja di Singapore.

Oknum P: waaaw ini lebih keren lagiii. *ini berarti gue lebih GAK keren lagi*. Jadi engineer kan ya?

Korban U: iya. Engineer perusahaan IT.

Oknum P: ih meni hararebaat.. neng hayatie aja yg ga kerja ya.. kenapa atuh ga kerja.. *menatap nanar*

Korban U: Ngurus anak2 aja di rumah.. sekalian dagang gamis kecil2an

Oknum P: dagaaaang gamiiisss???!#*&&^=£÷&
*semakin iba melihat korban U*

Yaelah bu oknum, kalo hayatie mau nyombong ya Bu, penghasilan tukang gamis cem hayatie ini 2xlipat dr penghasilan manager wardah bu.. setara dengan penghasilan engineer perusahaan IT singapore. Kagak tau aje nih si Ibu..

Tapi ya hayatie kagak mau debat panjang2 deh Bu. Hayatie mah cuman ibu rumah tangga yang semoga bisa jadi milyader dalam waktu deket.πŸ˜†πŸ˜† Hehehe. Doain aje ye bu oknum..

Bu oknum mesti tau, ibu rumah tangga lulusan ITB ini bahaya loh Bu.. udah terbuktikan oleh beberapa senior hayatie Bu.. mereka jadi pengusaha rumahan dengan omset milyaran walopun statusnya tetep ibu rumah tangga. *itu juga kalo ibu emang cuman bisa ngukur sesuatu pake standar duit*

Kalo ngukur pake yg lain2, misalnya ngukur pake “indeks kebahagiaan anak”, ibu bakalan speechlesss.. boleh lah ibu rumah tangga kalah dari segi duit, tapi ga akan kalah klo yg dijadiin patokan adalah “indeks kebahagiaan anak.”

Karna..
Jeng jreeeng…
Gak ada anak yang gak bahagia ketika bisa selalu bersama ibunya.. apalagi ketika mereka masih kecil… they need their mom to always be by their side. Mutlak? Yes, ini MUTLAK!

Gimana bu? Masi mau ngobrol lagi sama hayatie?πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†