Menikah Denganmu 2 [Satu Bulan Pernikahan]

Mungkin memang seperti itu cara kerja cinta: tak mudah diteorisasi, apalagi dijabarkan dalam prosa. Jika benar dan salah adalah mutlak, maka cinta adalah absurd. Cinta dan keabsurdan bak persamaan berbanding lurus yang selalu saling meneguhkan. Saling menambah nilai. Tanpa tapi. Tanpa alasan. Sungguh mengherankan.

Apa kabar, Cinta?

Begitu terang lidahku memanggilmu hari ini. Sejenak tersentak, bahwa cinta ternyata begitu lugas jika dibahasakan oleh jiwa. Ya, jiwa-jiwa yang mencinta, meski tetap absurd. Continue reading »

Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!

Beberapa kali saya mengernyitkan dahi membaca  judul postingan blog kali ini. “Kamu Cuma Butuh Satu Hal: Konsisten!” Cuma? Cuma? Cuma? Mari kita garis bawahi kata yang saya tulis tebal dan diulang sampai tiga kali di atas. Cuma? Hufh, it isn’t that easy, Nona!

Sepertinya para pembaca setia blog (ciyeeeh,lebai) sudah faham, bahwasannya ketika saya menggunakan kalimat perintah, nasehat, dan kalimat-kalimat kritik lainnya sebagai judul postingan di blog, maka sejatinya saya tengah bersiap mengoceh dan mengkritik diri saya sendiri. Sebutlah itu monolog atau komunikasi interpersonal, atau bahasa kerennya, ngomong olangan (?). Ya! Saya akan mencaci maki diri sendiri sampai saya sendiri pundung *lhoh? Continue reading »

Menikah Denganmu [1]

Tags

,

Di antara kabut-kabut waktu, sejenak engkau menjelma, tak utuh. Apa kabar? Ah, tak terduga hingga detik ini kita tak pernah saling bicara. Tapi tak apa, memang sudah semestinya.

Telah begitu jauh sepasang kaki kita melangkah. Rasa-rasanya tak ada alasan untuk berhenti. Meski lirih, meski pernah terjewantah seulas tanya,  siapa kita? Untuk apa? Tetap tak ada alasan untuk berhenti.

Hei, Kak..

Adakah kau merasakan kegundahan mendalam malam ini? Aku iya, resah. Tentang jalinan ini, akankah ia melesat jauh hingga ke surga? Lantas membuat bidadari-bidadari disana cemburu buta. Pada kita. Pada kisah kita yang tak urakan, apalagi picisan. Akankah?

“Ya, insyaAllah.” Lagi-lagi jawaban diplomatis kudapati dari engkau.
Terima kasih. Gundahku mereda.

Sementara kutemukan ikrarmu diantara helaian jiwa: untuk menggamit jemariku menuju relung-relung jannah, lalu tak melepasnya. Seperti halnya jiwaku, yang nyata telah bertaruh: membersamaimu, sepanjang jalan, hingga lebih lama dari selamanya.

Semoga kakak selalu bertakwa, dan meleburku ikut di dalamnya. 

Suci.

Bandung, 23 Januari 2012.

1 hari setelah khitbah.

 


Bunga Untuk Pasangan

Sekuntum bunga, tekadang menjadi cara seseorang untuk mengungkapkan perasaan cinta kepada pasangannya. Maka tak heran jika kita sering mendengar kalimat yang berbunyi, “Katakan dengan bunga!”. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa memberikan bunga bukanlah satu-satunya cara untuk mengungkapkan perasaan kepada pasangan. Ada cara lain, yang semuanya tergantung pada pribadi masing-masing.

Jika sekuntum mawar merah sebaga tanda cinta hanya dapat bertahan dalam beberapa hari saja, maka ada bunga-bunga lain yang daya tahannya jauh lebih lama dari bunga mawar dan bunga hidup lainnya. Kuntum bunga-bunga tersebut akan hadir dalam keseharian hidup pasangan suami istri yang telah berkomitmen untuk bersatu dalam mengaruhi bahtera rumah tangga agar bisa berlabuh di sebuah pulau Samara, sakinah, mawaddah, wa rahmah. Continue reading »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.